Makna sebuah status WhatsApp
Membaca tulisan satatus
WhatsApp teman “kita hidup pada zama
dimana sendok makan di tangan kanan,....HP di tangan kangan kiri dan jodoh
tetap di tangan Tuhan” wkwkwkwkw......membuatku teringat akan diriku yang
masih sendiri, apakah saya seperti yang ada dalam status WA itu..?
wkwkwkwkw.....terasa konyol memang tapi menyentuh.
Status itu membuatku
merenung sejenak dan berpikir tentang jodoh yang masih ditangan Tuhan. Tentang dia yang akan menemaniku setiap saat
baik suka dan duka, dia yang akan bersamaku melepas sore hari dan menyambut
mentari pagi dengan dengan cinta....yeaaahhhhh keren kan wkwkwkwkwk!!!
Verbal yang mewakili perenunganku sesasat membaca status wa temanku...wwkwkwkwk
Sebelum
aku bersamamu banyak hal sudah terjadi dalam setiap perjalanan hidupku. Segala yang
pahit dan menyakitkan sudah aku nikmati. Rasa sesak, merintih dan menangis
dalam malam pernah aku jalani, sampai aku pada titik akhirku yaitu pasrah.
Tapi, apakah kau tahu dalam hati kecilku ini berkata “apakah kau akan menyerah
dan membiarkan mereka yang menertawai sakitmu itu senang?” Dan saat itu pun aku
bangkit.
Aku berbicara pada hatiku
dan bercerita pada Tuhan dalam setiap do’aku. Apakah aku pantas menyerah
seperti ini ? ataukah pantaskan dia yang menjadi hidupku nanti melihatku
seperti ini ? hatiku bertanya dan suara terkecil itu menggema “Tidak! Apa kau
akan membiarkan dia yang di depanmu menderita karena kau menyerah untuknya.
Sejak saat itu, aku tersadar sakit ini bukan selamanya tapi sementara saja.
Tidak apa jika ini sangat perih, namun aku percaya ini tidak akan lama.
Kini aku bisa berteman
dengan waktu. Seiring berjalanannya waktu, aku memperbaiki diri sebelum kau
datang padaku. Aku bersenang-senang dan menikmati setiap waktu yang ada untuk
berkaca dan berbagi dengan sesama, sebelum kau datang dan fokusku akan aku
curahkan padamu. Aku percaya kau masih menungguku di sana dengan setia dan juga
pasti mendo’akan untuk pertemuan kita.
Hingga hari itu datang,
tolong bersabarlah dulu. Kita sedang berjuang menemukan jalan. Kita juga sedang
berjuang membuka hutan rimba yang akan mempertemukan kita. Aku akan terus
berjuang disini memperbaiki diri dan imanku agar aku segera sampai padamu. Aku
ingin persembahkan versi terbaik dari diriku untuk teman hidupku di sana.
